
Pekan Literasi (Bedah Buku) “Spritualisme Sasak” dengan tema “Pendidikan Spritual dan Gerakan Tarekat TGH. Muhammad Mutawalli” diselenggarakan oleh LP2M STIT Palapa Nusantara kolaborasi dengan Badan Eksekutif Mahasiswa STIT Palapa Nusantara yang disampaikan oleh bapak Dr. Sirajun Nasihin, M.Pd.I. selaku penulis buku, bapak Asbullah Muslim, S.Fil.I, M.Pd.I. sebagai editor, dan bapak Abdul Haris Rasyidi, M.S.I. selaku ketua LP2M STIT Palapa Nusantara. Kegiatan ini berlangsung di Kampus STIT Palapa Nusantara pada tanggal 26 Desember 2022.

Kegian ini dibuka langsung oleh Ketua STIT Palapa Nusantara sekaligus sebagai pengatar yang memberikan infirasi terhadap mahasiswa serta seluruh peserta Pekan Literasi, baik dari kalangan Akademik, Guru, Dosen, Mahasiswa, serta Siswa. “Semua peserta khusunya Mahasiswa STIT Palapa Nusantara harus mampu untuk menggali spritual-spiritual yang ada di daerah masing-masing.” Ungkapan beliau adalah secara tidak langsung memberikan semangat terhadap mahasiswa untuk bisa serta mampu menjalankan salah satu dari tri dharma perguan tinggi, yaitu penelitian. Supaya kemudian hal-hal yang berbau kualitas itu sampai terhadap visi misi kampus.
Keberlangsungan dari kegiatan ini adalah salah satu bentuk bahwa jargon dari kampus STIT Palapa Nusantara ini adalah Tarbiyah Kebangsaan seperti yang diungkapkan oleh bapak Asbullah Muslim, S.Fil.I., M.Pd.I ketika menyampaikan materi selaku editor dari buku tersebut. Yang dimana suatu bahan kerangka berfikir dalam pengembangan lembaga-lembaga pendidikan perguruan tinggi adalah tarbiyah spritual reseliensi, artinya adalah sebuah basic yang mengikuti arus zaman.
Didalam kegiatan tersebut bapak Dr. Sirajun Nasihin, M.Pd.I. mengungkapkan bahwa “Cara Tuan Guru Haji Muhammad Mutawalli itu menyampaikan berbeda dari tuan guru yang lainnya, yang salah satunya cara beliau adalah membaur dengan budaya.” Dapat kita pahami bahwa bentuk dari spritual yang dilakukan oleh Tuan Guru Haji Muhammad Mutawalli dalam menyiarkan agama islam yang ada diwilayah Lombok dengan cara pendekatan yang berbeda. Sehingga tarekat yang beliau ajarkan itu sampai dengan apa yang diinginkan.
Dari kegiatan tersebut dapat kita pahami bersama bahwa yang paling penting dalam mengembangkan sebuah pemikiran adalah dengan cara mengikuti arus zaman, dengan catatan harus melewati jalur positif.

Sangat lah bermampaat bgi kalangan mahasiswa dan kalangan akademik . yg di zaman sekarang moderen butuh spiritual**lokal moral**yg ada sehingga spiritual**atau pun tradisi yg bisa diterapkan dengan baik dengan adanya pekan listerasi spiritualisme sasak .
Mahasiswa butuh imunisasi pemikiran serta dukungan full tentang bagaimana kampus untuk kedepannya